Politik

Mengapa ada yang Gila-gilaan Mendukung, Padahal Yang didukung Kenal juga enggak?

Judulnya kece yah? Wah Mr Pendapat ikut menyeruduk isu politik nih…

Betul, ini memang isu politik, dan ga usah sok-sokan ga terpapar isu politik deh. Tapi tulisannya netral kok, kalau gak netral berarti Jambrud.

Mari kita simak yah…

Heran gak sih, banyak yang gila-gilaan mendukung seseorang, padahal yang didukung sama sekali ga kenal. Sebenarnya kita yakin kebanyakan pendukung yang “gila” banget di sosial media, sebenarnya gak kenal-kenal banget dengan sosok yang didukungnya. Begitu juga sebaliknya, yang didukung juga mungkin sama sekali ga kenal “orang yang mendukungnya”. Bukan kakek, bukan paman, bukan sepupu, apalagi orang tua.

Uniknya pembelaan itu terkadang bisa melampaui batasan moral, batasan agama, misalnya “Mengucapkan kata-kata kotor”, yang dosanya ditanggung oleh “Pendukung”, dan yang didukung ga ada urusan sama sekali. Unik yah…

Ada juga yang gila-gilaan mendukung, padahal setiap hari masih suka melanggar aturan lalu lintas, buang sampah sembarangan, naik motor tanpa bawa STNK, terlambat ke kantor, kerja ga becus, kurang bahagia pernikahannya. Lah, terus yang didukung itu apa? Mendukung negara? Mendukung pemerintah?

Bagaimana mungkin seseorang begitu “getol” nya mendukung pemerintah, negara atau seseorang untuk menjadi pemimpin, padahal keluarganya di rumah “cukup berantakan”. Bahkan pekerjaannya sehari-hari pun kurang terurus dan kurang ada peningkatan.

Ini fenomena unik loh… dan Mr Pendapat kebingungan, ini termasuk nafsu model apa yah.

Ada yang lebih seru…

Sebenarnya dampak langsung dari “Maniac” nya dukungan-dukungan tersebut juga gak ada. Sedangkan dampak tidak langsung juga masih belum ada kepastian. Tetapi memang upaya mendukung itu baik dan positif, ketimbang tidak peduli sama sekali.

Tetapi kita perlu dengan serius berpikir, sudah bereskah diri kita sendiri di dalam rumah, sehingga kita bisa gila-gilaan mendukung hal-hal lain.Mr Pendapat berpendapat, bahwa jika kita sudah bagus dalam menjalani pekerjaan kita, menjalani keluarga, menyayangi anak-anak kita, berprilaku baik dalam berkendara dan bermasyarakat, maka ini adalah “dukungan” dan sumbangsih terbesar kita untuk negara ini.

Mendukung sebaiknya jangan gila-gilaan, apalagi bukan sodaraan sama yang didukung. Kalau sodaraan, itu namanya Nepotisme dong, hmmm nanti kita bahas di artikel yang lain yah. Dahulukan “sikap” diri sendiri ketika berkeluarga, menggunakan fasilitas umum dan bekerja. Mendukung itu suatu hal yang baik, tetapi dahulukan dari hal-hal terkecil dan terdekat dalam hidup kita.

Berikut ukuran, bahwa anda sudah mendukung dan menjadi gila:

  1. Mengucapkan kata-kata kotor kepada lawan dari orang yang anda dukung.
  2. Menyampaikan informasi yang seolah-olah sebuah “kepastian” jika yang anda dukung menang, padahal tidak ada yang tahu masa depan.
  3. Jika anda belum bisa mencintai anak, istri, suami, rekan kerja, tetangga, pimpinan dalam bekerja, maka usahakan terlebih dahulu untuk berinteraksi baik kepada ring 1 dalam hidup anda, sebelum mendukung secara gila para “calon pemimpin” yang anda sendiri gak kenal-kenal amat.
  4. Dukunglah diri anda sendiri untuk berprestasi di tengah-tengah keluarga, pekerjaan dan masyarakat.

Setuju samaMr Pendapat, sampaikan pendapatmu?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel yang Ramai

To Top