Tips Ngeblog Irit
Kini, punya situs pribadi dengan kapasitas melimpah, bukan sesuatu yang mewah. Betapa tidak, sewa hosting 25 GB setahun plus domain cuma Rp 696.000. Fasilitas bagus, pelayanannya cepat. Suer, belum ada yang menandingi Imediabiz.Com.
|
|
|
|
|
Editor | mase
|
|
Senin, 23 Juni 2008 |
Sardan Marbun, Pemimpin Redaksi Tabloid Sambung Hati 9949, rupanya belum kapok menantang lawan-lawan pujaannya, Presiden Bambang (tanpa Gentholet). Marbun pernah minta ampun karena diserang balik oleh orang-orang Jenderal Wiranto dan Megawati anak Sukarno.
Pasalnya, saat itu tabloidnya bikin komik yang menggambarkan Wiranto sebagai pengemis tua compang-camping, sedangkan Mega sebagai nenek sihir. Bawa sapu terbang pula. Karikatur itu dimuat di Tabloid Sambung Hati 9949 edisi 09/April 2008. Angka 9949 merujuk pada tanggal, bulan dan tahun kelahiran Presiden Bambang. Marbun mengakui, Tabloid yang mulai terbit 17 Agustus 2007 itu diongkosi dari anggaran Kepresidenan. Lugasnya, duit negara. Lazimnya propaganda, tabloid itu diedarkan gratis. "Tidak ada niat menyindir (Wiranto dan Megawati). Karikatur dibuat sekadar supaya ramai dan menarik," dalih Marbun saat itu.
Marbun boleh banyak dalih tapi saya jamin semua orang akan punya persepsi sama soal karikatur itu. Marbun sebagai penulis naskahnya memang bermaksud meremehkan Wiranto dan Mega. Kini, salah satu staf khusus itu berulah lagi. Lewat tabloid yang sama edisi 16/Minggu III Juni 2008, Marbun mengangkat komik berjudul Karya Nyata Versus Iklan di rubrik Obrolan Warung Kopi.
Pokok dialognya soal pro-kontra kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. Disajikan komentar sinis untuk para penentang kebijakan itu. "Bahkan sudah tidak asing lagi meniru penjual obat atau pedagang yang menggunakan sarana iklan. Namanya ya iklan, bisa ya atau tidak, yang jkelas belum terbukti."
Sejauh ini, satu-satunya lawan Bambang yang pasang iklan untuk menyerang keputusan harga BBM naik cuma Wiranto. Megawati cuma lewat berbagai pernyataan di acara partainay dan gaungnya lemah. Maklum, selama dia berkuasa juga tidak menoreh prestasi sedikit pun. Saya sudah bersusah payah tapi gagal mengenang kebijakannya selama berkuasa yang sekiranya menempatkan Megawati pada posisi pantas untuk dipilih lagi.
Kalau iklan Wiranto memang menjijikkan, mengeksploitasi kesedihan dan kemiskinan untuk tujuan politis. Padahal, seumur-umur dia berkuasa, meskipun tidak berurusan langsung dengan upaya peningkatan ekonomi, berada di pihak Orde Baru yang penindas. Dia toh nyaman-nyaman saja. Sewaktu berkuasa, tidak pernah terdengar ucapannya yang mengoreksi kebrengsekan Orde Baru, secara halus sekalipun.
Wiranto adalah jenderal yang kalah bertarung dalam Pemilihan Presiden 2004 melawan Bambang yang terhitung yuniornya. Meniru Bambang yang mendirikan Partai Demokrat dan sukses, Wiranto juga bikin partai baru. Namanya Hanura, kependekan dari Hati Nurani Rakyat, bukan tentara. Bambang dan para pemujanya tentu tidak menganggap enteng Wiranto dalam Pemilihan Presiden 2008 nanti. Itu sebabnya, segala cara coba dilalui untuk menghadangnya. Penyebaran tabloid propaganda hanya salah satunya.
Tapi masalahnya, sejauhmana bisa dibenarkan duit rakyat digunakan untuk propaganda yang coraknya lebih kental pada kepentingan Bambang sebagai politisi? Pertanyaan macam begini memang mudah ditangkal dengan argumen bahwa semua itu demi menyosialisasikan kebijakan serba bagus negara. Dan, itu sah-sah saja. Saya tidak cukup cerdik untuk menangkis balik argumen semacam itu. Sebab, tipis sekali batas antara kepentingan pribadi pejabat dengan kepentingan negara. Kita terlalu terbiasa menerima kenyataan bahwa pejabat bolek seenak udelnya pakai duit negara untuk kepentingan apapun. Terlalu biasa, seorang pejabat berjubah kepentingan negara tapi pada saat yang sama menggarong duit rakyat. Ajaran Suharto masih dianut banyak orang di Indonesia. |
|
|
|