|
Editor | mase
|
|
Sabtu, 28 Juni 2008 |
Puteri Raemaswati di Vietnam, Juni 2008. Ia tampak pakai one piece bikini, sepotong bikini. Bukan yang two pieces, dua potong kain. Satu untuk pura-pura menutup payudara, satunya lagi untuk pura-pura menutup anunya.
Tapi di mana letak perbedaannya? Yang pertama lebih sopan dibanding yang kedua? Tidak juga. Perbedaannya sedikit saja. Keduanya bolehlah sama-sama disebut berbusana tapi sesungguhnya telanjang.
Kalau begitu, mengapa pula si Puteri dari mBlitar ini pilih yang pertama? Masih khawatir pada kaum pembawa pentungan macam di Monas tempo hari? Atau khawatir disemprit penjaga moral di negeri ini?
Lha kalau alasannya itu, Indonesia kan negeri serba lengkap. Ada yang sudah pasti masuk surga, ada yang sudah masti masuk neraka. Orang pakai celana di bawah tumit saja bisa dicap pasti masuk neraka...
Tapi di sisi lain, cewek-cewek berbikini, tak peduli bule atau lokal, klumbrukan di pantai-pantai Bali atau Lombok sana. Bahkan biasa bertelanjang dada, topless.
Lagi pula, debat kusir soal sebaiknya nona, puteri, miss, mbakyu, jebing, cewek Indonesia berbikini atau tidak waktu kontes ayu-ayuan sejagat, juga sudah lama tak laku di ruang publik. Tidak banyak lagi suara yang seolah-olah mayoritas yang melawan kontes ayu-ayuan dan sambil polos-polosan begini.
Tapi yang sebetulnya menggelitik, buat apa sesunggunya kontes ayu-ayuan macam begitu? Omong kosong soal pariwisata. Ada 1.000 cewek seseksi Puteri pun, Indonesia tak akan dikunjungi turis kalau bom meledak hampir tiap tahun dan lokasi wisatanya garing-garing.
Sejujurnya, aku sebetulnya lagi iri. Kok ndak ada kontes ngganteng-nggantengan. Aku sudah siap mental, lahir batin, jasmani dan rohani, untuk jadi nomer satu. Nomer satu dikepruki... |